Digital Sebagai Provoke Peace

Generasi saat ini tidak bisa dilepaskan dari yang namanya internet, media sosial ataupun gadget. Setiap hari, jutaan orang mengakses internet melalui smartphone ataupun notebooknya. Tujuannya beraneka ragam. Ada yang sekedar menuliskan status, mengakses informasi, menonton film, atau untuk urusan serius seperti mencari kerja ataupun lahan bisnis. Begitulah perkembangan dunia maya dan media sosial di era digital saat ini. Tapi tahukah kamu, keadaan ini sebenarnya sangat menguntungkan untuk kita menyebarkan konten positif yang memancing orang lain untuk turut berbuat baik juga karena postingan kita?

Dahulu, media sosial hanya dipandang sebelah mata, namun kini media sosial mulai diperhitungkan sebagai arena yang bisa melejitkan sekaligus menenggelamkan sesuatu dalam hitungan detik. Dengan penguna media sosial hingga miliran manusia di planet bumi ini, kekuatan media sosial tidak bisa disepelekan lagi. Perlahan-lahan media sosial mulai mengalahkan media konvensial untuk mempengaruhi orang-orang.

Saking seringnya anak muda muda beraktifitas di media sosial, hampir segala sesuatunya dicurahkan di media sosial. Ada yang mencari teman, tapi ada juga yang memutuskan hubungan di media sosial. Ada yang menebar kebencian, tapi ada juga yang menebar kedamaian. Saat ini, media sosial tidak hanya berkontribusi pada kemajuan zaman ataupun gaya hidup. Namun media sosial juga bisa mempengaruhi ucapan dan perilaku seseorang dalam keseharian.

Itulah faktanya saat ini. Kita sebagai orang baik, harus mampu mengisi konten media sosial dengan ajakan perdamaian yang menumbuhkan jiwa kekeluargaan dan memupuk rasa persaudaraan. Media sosial bisa digunakan untuk macam-macam, tergantung peruntukannya. Karena itulah, mari kita gunakan media sosial yang bisa membuat kondisi negeri ini semakin damai. Saatnya memperbanyak pesan damai di media sosial. Saatnya memperkuat jejaring apa saja, yang aktif menebar perdamaian. Jejaring itulah yang bisa melawan masifnya propaganda radikalisme selama ini.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir. Kita belajar dari contoh kasus teroris di Indonesia. Kelompok radikal dan teroris pun juga memanfaatkan media sosial. Bukan untuk mengakses informasi, tapi justru menebarkan propaganda radikal, mencari anggota, bahkan hingga mencari pendanaan, untuk menunjang aksi terornya. Jangan sampai kita kalah dalam menebar kebaikan.

Dunia digital kini semakin berkembang dan tidak memberi batas ruang dan waktu, kapanpun dan siapapun kini dapat dengan mudah mengakses semua informasi yang ada. Kehidupan sudah sangat dekat dengan adanya media sosial. Oleh karena itu, kita harus mengisinya dengan hal baik untuk memancing perdamaian, bukan kebencian. Kita harus terus mewarnai media sosial dengan hal yang penuh cinta, bukan angkara murka. Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *