Revolusi Digital di Industri Kelautan Indonesia

Kalau kita ingin mengetahui keadaan perairan laut di negara kita, ada baiknya kita simak lirik lagu “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jalan cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu.” Begitulah gambaran laut di Indonesia. Grup musik Koes Plus mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar.

Negara kita adalah pemilik laut dengan panjang pantai nomor dua di dunia dan terdapat sekitar 17 ribu gugusan pulau dari ujung timur sampai ke barat. Data FAO juga menempatkan Indonesia menjadi negara dengan potensi kelautan ke-3 di dunia setelah India dan China. Potensi itu jika dimanfaatkan dengan baik bisa jadi solusi persoalan kemiskinan nelayan. Secara umum bisa mengatasi krisis pangan di masa mendatang.

Di balik luas lautan yang sedemikian rupa, diketahui bahwa pemanfaatan potensi kelautan yang ada belum juga maksimal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Oktober 2017 ekspor produk perikanan Indonesia hanya 862,1 ribu ton, lebih kecil dari periode yang sama tahun sebelumnya. Juga secara nominal, pendapatan ekspor produk perikanan hanya USD3,61 miliar hingga Oktober dari target yang ditetapkan 2017 sebesar USD 7 miliar. Padahal, Food Agriculture Organization (FAO) menyebut potensi pasar produk perikanan global mencapai 240 juta ton per tahun dan Indonesia berpotensi menguasai 25 persen dari potensi global pada 2024 mendatang.

Dalam roadmap pembangunan kelautan dan perikanan 2015-2019, telah dibuat peta permasalahan dalam bidang kelautan dan perikanan, salah satunya ialah kurangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kelautan dan perikanan serta diseminasi teknologi. Sehingga kita harus melakukan revolusi industri kelautan yang merupakan sistem untuk mengintegrasikan dunia online dengan produksi industrinya.

Efek revolusi tersebut adalah meningkatnya efisiensi produksi karena menggunakan teknologi digital dan otomatisasi, serta perubahan komposisi lapangan kerja. Inovasi teknologi untuk kelautan yang sudah dibuat antara lain adalah buatan Mahasiswa S3 Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Qurrotul Aini, yang berhasil merancang alat komunikasi berbasis satelit bagi nelayan Indonesia.

Dengan sistem ini, nelayan akan bisa mengoptimalkan rute dan destinasi mencari ikan. Selain itu juga memiliki kualitas teknologi komunikasi antar kapal yang efektif. Oleh sebab itu diperlukan sebuah integrasi sistem yang lebih handal untuk menutupi kekurangan sistem yang telah dibuat, artinya inovasi harus tetap dikembangkan. Salah satu teknologi yang dapat diintegrasikan inovasi yang telah berjalan adalah Synthetic Aperture Radar (SAR). Data citra satelit radar Synthetic Aperture Radar Satellite (SAR) dapat mendeteksi sebaran kapal secara spasial di suatu area. Sehingga era digital ini sudah sepatutnya kita sambut dengan suka cita agar kelautan Indonesia semakin maju. Jangan lupa share informasi ini ke teman-teman ya agar semakin bangga dengan Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *